Saya melihat air yang diam menyebabkan kotor. Bila mengalir, ia menjadi bersih. Dan bila tidak mengalir, ia tidak akan jernih.

Singa bila tidak meninggalkan sarangnya, dia tidak akan pernah memakan mangsanya.

Dan anak panah bila tidak terlepas dari busurnya, tidak akan pernah mengenai sasarannya.

-Imam Syafi’i

Cerita Lucu

“Ibu saya menikah usia 27 tahun. Artinya saya juga akan menikah maksimal umur segitu.”

“Oke. Nanti, saat usiamu 27 dan belum ada yang menikahimu, saya akan menikahimu.”

…….

Lucu, karena 5 bulan sebelum usiaku genap 27 tahun, kamu menikah dengannya.

4.20

Sembilu yang dulu biarlah berlalu

Bekerja bersama hati, kita ini insan bukan seekor sapi

…..

Weekend sebelum puasa kemarin, kebetulan bertepatan dengan Masa Lapangan Pendidikan Dasar TBM Calcaneus. Saya sengaja menganggurkan jadwal jaga karena mau ikut mendaki. Sejak resmi menyandang gelar dokter, saya cuma pernah mendaki satu kali. Setelah itu, saya disibukkan dengan dunia kerja dan merantau. Officially 4 tahun saya tidak pernah mendaki, saya jadi lupa rasanya naik gunung.

Motivasi utama saya sebenarnya mau mengetes kemampuan diri saya. Mengingat umur dan berat badan saya semakin bertambah, juga saya sudah lama bereleyeh-leyeh di zona nyaman. Tiga minggu sebelum pendakian, saya mulai mengatur pola makan, siapa tahu badan saya bisa agak lebih ringan pada hari H. Saya juga mulai jogging, niatnya mau tiga kali seminggu, realitanya cuma tiga kali dalam tiga minggu itu. Hahaaa.. Bahkan saya sempat sakit satu mingu sebelum pendakian.

Sempat waswas karena kondisi tidak fit, juga karena peralatan gunung yang tecerai berai entah ke mana, akhirnya saya membulatkan tekad untuk ikut Masa Lapangan. Walaupun sebenarnya alasan utamanya adalah karena saya malu kalau tidak jadi ikut mendaki padahal sudah pinjam peralatan sana sini.

Ini pendakian pertama saya setelah 4 tahun, dan pendakian pertama saya sebagai senior perempuan, sendirian, which means saya akan tidur sendiri di tenda karena junior jarang tidur di tenda. Saya tidak masalah tidur sendirian, karena alhamdulillah di gunung saya tidak pernah ketemu hal-hal ghaib, jadi tidak terlalu takut.  Yang masalah adalah saya kasihan sama yang packing tenda, karena sudah bawa tenda (dengan kapasitas 4 orang) berat-berat hanya demi satu orang senior tidak tahu diri. Hahaaa..

Ini juga pendakian pertama saya di Lembah Benteng. Lembah Benteng ini termasuk salah satu lembah yang terletak di area Gunung Bawakaraeng, beserta lembah Ramma, Lemba Loe, dan Tanralili. Saya sudah terbiasa naik di Ramma. Insya Allah kalau diajak nge-Ramma, bisalah saya anggap diajak ngemall. Tapi saya tidak punya bayangan mengenai medan yang akan saya lalui ke Lembah Benteng ini. Senior-senior yang jalan bersama saya juga bukannya memotivasi, justru malah menakuti dengan cerita-cerita bahwa medannya sangat berat, apalagi kami jalan malam hari.

Dan kenyataannya, medannya memang berat. Memulai perjalanan  dari kampung terakhir, saya langsung nemu tanjakan berbatu-batu kecil tiada henti. Yang saya syukuri adalah  kami jalan malam hari, berhubung saya anaknya tidak tahan panas (sok-sok nge-Edward Cullen, padahal saya memang betul-betul tidak tahan berpanas-panas, saya malah curiga saya terkena hipertiroid). Setelah turun naik turun naik beberapa kali, akhirnya sampai di Danau Tanralili, lokasi camp hitz anak muda. Ala-ala Ranu Kumbolo nya Rinjani lah yaaa. Saya tidak muda, jadi tidak nge-camp di sana. Saya dan geng orang tua melanjutkan perjalanan ke Lembah Benteng, dan disinilah ujian kesabaran bermula. Kesalahan pertama ada pada junior saya yang mecekoki saya di awal perjalanan bahwa lokasi camp kami dekat dari Danau Tanralili. Pemikiran itu tertanam baik-baik di kepala saya, jadi ketika nemu Danau Tanralili,  hati saya sudah senang bukan kepalang mikir camp sudah dekat. Kesalahan kedua ada pada saya yang percaya bahwa “dekat” itu bermakna dekat, tanpa meminta definisi lebih lanjut. Hahahaa..

Dan di sanalah saya, setengah perjalanan dari Danau Tanralili ke Lembah Benteng, menjatuhkan badan saya ke tanah, tertawa setengah ngambek, merasa jengkel dan lucu pada diri saya yang lemah, hampir kalah melawan diri sendiri. Tapi saya tidak kalah, saya cuma merajuk sebentar, kemudian berdiri, menguatkan kaki dan tekad, saya harus mencapai camp dengan usaha saya sendiri, bersama daypack dan sepatu pinjaman saya dari Makassar.

Dengan menempuh kurang lebih 4,5 jam perjalanan, tibalah saya di camp, menuju ke tempat hangat bernama Kitchen for Calcaneus, sebuah tenda khusus untuk masak selama Masa Lapangan Dikdas. Minum teh hangat sambil mengeluhkan beratnya medan pendakian bersama orang-orang saya kenal, yang lahir dari rahim yang sama, rahim Calcaneus. Betapapun capeknya, mendaki gunung selalu sesederhana dan seromantis itu.

Pulang dari Lembah Benteng, saya teringat pada kenangan-kenangan masa muda dulu, kembali jatuh cinta pada gunung dan pendakian, juga recharge semangat-semangat saya dalam mewujudkan mimpi-mimpi yang belum sempat terwujud.

Kita tidak pernah terlalu tua untuk memulai sesuatu.

….

Sembilu yang dulu biarlah membiru

Berkarya bersama hati…

Tenaga Medis PT KAI

Setelah kemarin capek googling soal info tahapan tes untuk formasi tenaga medis PT Kereta Api Indonesia, saya memutuskan untuk share sedikit. Sharenya cuma sedikit bukan karena pelit, tapi karena saya langsung gagal di tes kesehatan awal. Huhuu~

Jadi, sesuai yang tertulis di web, tahapan seleksi konon untuk formasi tenaga medis PT KAI itu ada 5, sebagai berikut

1. Seleksi berkas/administrasi

2. Tes kesehatan awal

3. Psikotest

4. Tes wawancara

5. Tes kesehatan akhir

Setelah ada pengumuman lulus berkas, maka saya pun cus terbang ke ibukota, karena kebetulan memang daftar DAOP I. Nama saya berada di urutan 1129 dari 1600an pendaftar. Saya mendapat giliran tes di hari ketiga. Jam setengah 8 pagi, saya sudah duduk-duduk cantik di bawah tenda yang berdiri di halaman Klinik Mediska Manggarai bareng pendaftar yang lain. Pakai kostum hitam putih, berasa mahasiswa baru. 😆

Setelah nunggu beberapa puluh menit, giliran saya dipanggil untuk tes. Tes pertama adalah pengukuran berat badan, tinggi badan dan Body Mass Index. Buat perempuan tinggi minimal 155, buat laki-laki tinggi minimal 160. Saya yang biasanya tinggi 162, di klinik Mediska Manggarai ini malah 161. Berat 55 kg. Body Mass Index masuk kategori normal. Alhamdulillah, saya lulus tes pertama. Teman-teman yang lain yang tingginya atau Body Mass Index nya tidak memenuhi syarat, dipersilakan langsung pulang. Sadis 😩

Tes berikutnya pemeriksaan gigi. Saya sempat punya peradangan gusi yang parah, sampai harus potong gusi alias gingivektomi. Di tahap ini, saya agak harap-harap cemas, apalagi liat pendaftar-pendaftar sebelum saya yang langsung gugur karena caries gigi seiprit. Sadis part 2. Tapi, mungkin karena saya rajin berobat sebelum-sebelumnya, alhamdulillah lulus lagi.

Selanjutnya periksa visus. Ini adalah pemeriksaan yang bikin saya harap-harap cemas part 2. Sambil nunggu, saya sharing sama teman-teman lain yang berkacamata. Saya pakai kacamata miop, -0,75 mata kanan dan kiri. Sebenarnya di dokter mata, saya ngukur visus dan dikoreksi -1,25. Tapi dari optik, saya merasa cocok-cocok saja pakai -0,75. Dan di sinilah titik blundernya. Yang periksa visus bukan dokter, dan ketika membaca snellen chart, saya disuruh pakai kacamata saya untuk koreksi visus. Karena kacamata saya memang tidak sesuai ukuran koreksi saya seharusnya, visus saya dianggap bertambah dan kacamata tidak sukses mengoreksi visus saya. Walaupun saya berusaha menjelaskan bahwa kacamata saya lebih rendah koreksi nya, yang ngetes tidak paham. Alhasil, saya gugur di tahap ini. Perihhhh 💔 Lebih perih lagi karena beberapa teman pendaftar yang miop nya lebih parah, berhasil lulus tahap ini. 😭 Mungkin memang bukan rejeki saya di tempat ini.

Lanjut tahap terakhir dari tes kesehatan awal, yaitu pemeriksaan varises. Saya tidak ikut pemeriksaan ini karena sudah gugur, tapi dengar cerita dari pendaftar yang lulus, mereka disuruh menggulung celana/rok sampai ke lutut, kemudian betis mereka diinspeksi dan palpasi untuk mendeteksi adanya varises. Makanya pastikan celana yang dipakai saat tes bisa digulung. Kalau tidak bisa digulung, terpaksa buka dari atas 🙈😅

Saya sebenarnya agak sedih tidak bisa join PT KAI. Dan menjadi semakin sedih karena saya tidak memahami esensi dari tes kesehatan awal ini. Dalam pikiran saya, memang nya kenapa kalau tenaga medis PT KAI punya tubuh yang pendek, gigi yang lubang, memakai kacamata dan punya varises seiprit. Toh kalau melihat jam kerja yang tercantum di klinik hanya sekitar 6 jam/hari, tidak ada shift malam, dan standby di klinik ber-AC. Saya juga agak jengkel karena yang tercantum di pengumuman di website hanya masalah tinggi badan dan berat badan, serta tidak mencantumkan persyaratan lain, termasuk miop yang menggugurkan saya. Seandainya mereka menyebut dari awal masalah miop, saya tidak perlu bela-belain kabur dari Makassar meninggalkan jaga demi tes ini. It feels like i wasted my time, money & energy.

Tapi saya harus stay positive, dan berusaha mengambil hikmah 🤣. Mungkin saya diutus untuk ikut tes kesehatan awal, agar bisa share cerita di wordpress, memberi gambaran kepada teman-teman tenaga medis yang mungkin suatu saat minat join PT KAI. Semoga saya segera nemu tempat kerja yang sesuai hati dan kompetensi 🧞‍♂️

Asma Bronchial

Tadi baca topik asma bronchial, refresh ilmu ceritanyaa. Tiba-tiba keingat sama pasien saya di Kabaena. Pak Guru, punya asma sejak kecil, tapi mulai kambuh lagi sejak Kabaena mulai dingin-dingin geje. Selama di Kabaena, saya dua kali berkunjung ke rumah pak Guru. Setelah dinebu & injeksi obat asma, mengi pak Guru tetap bandel, cuma berkurang sedikit. Saya selalu membujuk pak Guru agar mau dirawat di puskesmas, biar bisa diterapi oksigen & dinebu secara berkala. Tapi pak Guru selalu menolak. Sudah mendingan katanya kalau habis dinebu satu kali.

Kemudian ketika saya pindah di Makassar, suatu malam, saya ditelpon oleh istri pak Guru. Dengan suara agak panik, istrinya meminta saya datang ke rumah pak Guru, katanya asma nya kambuh dan pak Guru sedang sendirian di rumah, istri nya di luar daerah. Saya yang kebingungan, ikut panik. Kepada istrinya, saya beri nomor telepon teman-teman perawat di puskesmas yang saya tau punya nebulizer. Beberapa menit kemudian, saya ditelpon, nomor teman-teman perawat tidak aktif. Kemudian saya berikan nomor telepon kepala puskesmas. Istri pak Guru pun tidak menelpon lagi, mungkin sudah dibawa ke puskesmas. Saya tidur kembali dengan tenang.

Besok paginya, saya bangun, cek-cek hp, liat berita dan status kekinian. Kemudian perasaan saya tidak enak ketika melihat status-status bbm teman-teman di Kabaena, status berduka. Saya telepon salah seorang pegawai puskesmas, dan saya menjadi sangat sedih mengetahui bahwa yang meninggal adalah pak Guru. Ternyata subuhnya, ketika kepala puskesmas datang membawa ambulans untuk menjemput pak Guru ke puskesmas, beliau sudah tidak ada.

Asma bronchial memang menggemaskan. Termasuk penyakit yang mudah diagnosisnya, dan cukup mudah penanganannya, kecuali asma yang bandel. Ibu salah satu sahabat saya meninggal juga karena asma. Ibu sahabat saya ini tiba-tiba kambuh asmanya tengah malam. Dibawalah ke rumah sakit, kemudian dinebu. Setelah dinebu, ibu sahabat saya diperbolehkan pulang. Di rumah, si ibu istirahat di kamar. Keesokan paginya, saudara-saudara sahabat saya menemukan ibunya sudah biru di kamar. 😢

Dan saya selalu bilang, kejadian-kejadian ini sebenarnya menggemaskan. Kalau dengar hasutan setan, saya selalu berandai-andai tentang kejadian tersebut. Padahal mungkin inilah hakikat ajal sebenarnya.

Lama Move On

Salah satu alasan saya susah move on dari tumblr adalah karena saya belum back up tulisan-tulisan tidak penting saya di sana. Walau tidak penting, catatan-catatan itu sejenis jurnal harian saya, yang ingin saya wariskan ke anak cucu saya agar mereka tahu betapa lebay nya nenek moyang mereka. Dan sekarang mereka kekurangan informasi kelebayan nenek moyang mereka, poor them!

Alasan kedua adalah, saya suka themes blog saya di sana. Beserta heading images nya yang tidak sempat saya simpan di mana-mana kecuali saya posting di tumblr. Aplikasi wordpress ini juga cenderung lebih ribet sih daripada tumblr, atau mungkin saya nya cuma butuh adaptasi.

Alasan terakhir, saya punya satu postingan terschedule, yang harusnya terposting kemarin. Dan sekarang saya tidak bisa melihatnya.